Analisis Kasus Setya Novanto
(Dugaan Pencantutan Nama Presiden dan Wakil Presiden)
Zul Hidayat
Komunikasi
dan Media, Pasca Sarjana Fikom, Universitas Padjadjaran
ABSTRAK
Maraknya
pemberitaan tentang kasus dugaan pencantutan nama presiden Jokowi Dodo dan Wakil
Presiden Jusuf Kalla. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman
Said Melaporkan Setya Novanto ke MKD DPR RI, politikus dari partai golkar dan
juga sebagai ketua DPR RI tersebut dilaporkan, karena menjanjikan perpanjangan
kontrak PT Freeport, imbalannya Setya
Novanto meminta saham Freeport dengan mencantumkan nama presiden dan wakil
presiden. Kasus ini menarik untuk diamati melalui tinjauan teori komunikasi.
Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil
dari analisis kasus ini adalah ada empat teori yang dapat digunakan dalam
memandang kasus tersebut, yaitu teori Retorika Ajakan, teori Pencitraan, teori
Disonansi Kognitif dan teori Konspirasi.
Kata kunci:
Setya Novanto, Dugaan Pencantutan Nama Presiden Jokowi Dodo dan Wakil Presiden
Jusuf Kalla, Retorika Ajakan, Pencitraan, Disonansi Kognitif, Konspirasi.
LATAR BELAKANG
Kontroversi Kasus Dugaan Korupsi Setya Novanto
Sosok Setya Novanto seakan tidak
pernah lepas dari pertentangan. Bahkan munculnya kontroversi sudah dimulai
sejak politikus gaek Partai Golkar itu terpilih menjadi Ketua Dewan Perwakilan
Rakyat (DPR) pada awal Oktober 2014 lalu.
Abraham
Samad, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi ketika itu, blak-blakan mengungkapkan
keprihatinan dan kekecewaannya atas terpilihnya pria yang akrab disapa Setnov
itu. Saat itu Abraham secara terbuka menyatakan terpilihnya Setnov sebagai
orang nomor satu di parlemen berpotensi mempunyai masalah hukum dan dapat
merusak citra DPR sebagai lembaga terhormat.
Tentunya
bukan tanpa alasan kalau Abraham menyesalkan terpilihnya Setnov. Sederetan
kasus dugaan korupsi pernah memaksa Setnov harus bolak balik menjalani
pemeriksaan sebagai saksi. KPK sendiri pernah beberapa kali memeriksa Setnov.
Tak hanya KPK, Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta juga memintai
keterangan Setnov.
Pada Tahun 2011
Pada Tahun 2011
Jauh
sebelumnya, nama Setnov juga sempat berurusan dengan hukum. Kasus dugaan
korupsi yang ikut menyeret-nyeret nama Setnov yaitu pengadaan paket penerapan
Kartu Tanda Penduduk berbasis nomor induk kependudukan secara elektronik
(e-KTP) tahun anggaran 2011-2012. Dalam kasus di proyek Kementerian Dalam
Negeri itu nama Setnov disebut oleh bekas Bendahara Umum Partai Demokrat
Muhammad Nazaruddin.
Nazaruddin
ketika itu menyebut ada aliran dana yang mengalir ke sejumlah anggota DPR di
antaranya Setya Novanto. Kala itu Setnov yang menjabat sebagai Bendahara Umum
Partai Golkar disebut-sebut menerima Rp300 miliar dari proyek besar e-KTP.
Nazaruddin waktu itu juga menyebut bahwa salah satu pengedali proyek E-KTP
adalah Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR yaitu Setnov.
Pada Tahun 2013
Wakil Ketua
Umum Partai Golkar kubu Aburizal Bakrie itu pernah diperiksa perkara suap
terkait pembangunan lanjutan venue Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII.
Tersangkanya dalam kasus itu ada bekas Gubernur Riau Rusli Zainal. Penyidik KPK
bahkan pernah menggeledah ruang kerja Setnov pada 19 Maret 2013.
Pada Bulan September 2015
Belum lama
ini nama Setnov kembali menjadi sorotan buruk. Bukan dalam perkara dugaan
korupsi namun menyangkut pelanggaran etika sebagai ketua Dewan. Pada awal
September lalu, Setnov bersama pimpinan DPR lain yaitu Fadli Zon menemui
kandidat calon presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Keduanya kemudian
diperkarakan ke Majelis Kehormatan Dewan.
Pencatutan Nama Presiden dan Wakil presiden
Pada 16 November 2015
Kini, Setnov
lagi-lagi membetot perhatian publik dengan mencuatnya kasus pencatut nama
Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Menteri Energi dan
Sumber daya Mineral (ESDM) sudirman said
melaporkan Setya Novanto ke MKD DPR RI, politikus dari partai golkar dan juga
menjabat sebagai ketua DPR RI tersebut dilaporkan karena menjanjikan
perpanjangan kontrak PT Freeport, imbalannya Novanto meminta saham Freeport dengan
mencatut nama presiden Jokowi dodo dan wakil presiden Jusuf Kalla.
Bantahan Setya Novanto
Wakil Ketua Umum Partai Golkar hasil munas Bali tersebut membantah adanya
transrip tentang dirinya mencantumkan nama presiden dan wakil presiden. Ia mengatakan;
“Presiden dan Wakil Presiden adalah simbol negara yang
harus dihormati dan dilindungi. Jadi, pimpinan DPR tidak akan membawa nama
Presiden dan Wakil Presiden. Apa yang disampaikan Presiden dan Wakil Presiden
harus disampaikan secara jelas.”
Soal adanya berita yang menyebut permintaan saham, Novanto mengatakan;
“Sebagai pimpinan DPR sangat mengetahui adanya kode etik
baik di Indonesia maupun di Amerika atau perusahaan Amerika di mana pun.
“Perusahaan Amerika keluar Rp 100 ribu saja betul-betul dilaporkan, apalagi
saham, apalagi untuk melaporkan hal-hal lebih jauh itu harus dilaporkan lebih
dulu dan harus disampaikan lebih dulu,” imbuh Novanto.(nasional.republika.co.id)
Setya Novanto Akan
Menyerang Balik
Tak terima
dengan berbagai tudingan ini, Politikus Golkar itu memilih menyerang balik.
Melalui laman
situs NBCIndonesia.com, Setya Novanto melalui kuasa hukumnya, Rudy Alfonso,
mengaku akan melaporkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman
Said ke kepolisian. Menurut dia, Menteri ESDM telah melanggar hukum karena
melakukan penyadapan yang bukan kewenangannya sebagai menteri.
“Pasti kita laporin. Terutama kalau bukti
dari MKD masih di tangan, teradu punya hak dong. Kalau tidak ditindaklanjuti,
orang besok sembarangan cari bukti lain diedit kan enggak bagus. Dari sisi itu,
kita ingin lakukan upaya hukum. “tandas Rudy di Jakarta, Senin (23/12/2015).
Selain itu, Setya
pun berharap dukungan dari Koalisi Merah Putih (KMP). Dalam pertemuan tertutup
dengan seluruh petinggi KMP yang diinisiasi Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo
Subianto yang dilakukan di Bojong Koneng, Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa
Barat ini dihadiri Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie, Presiden PKS
Sohibul Iman dan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al-Jufri, Ketua Umum DPP
PPP Djan Faridz dan politikus senior PAN, Amien Rais.
Usai
pertemuan tertutup itu, Prabowo menegaskan KMP tetap konsisten mendukung dan
berada di belakang Setya Novanto dalam menghadapi laporan Sudirman Said
tersebut.
“KMP
tetap mendukung Setya Novanto dan tidak mencatut Presiden dan tidak meminta
saham Freeport sesuai setelah mendengar penjelasan Ketua DPR," kata
Prabowo di kediamannya, Jumat malam, 20 November 2015.
Wakil Ketua DPR Fadli Zon yang ikut
dalam pertemuan itu pun mengatakan setelah mendapat penjelasan dari Setya
Novanto mereka berkesimpulan bahwa Politikus Golkar itu tak mencatut nama
Jokowi dan JK.
Tanggapan
Presiden dan Wakil Presiden
Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan Presiden Joko Widodo geram lantaran
namanya dicatut oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto dalam lobi
perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia. Jokowi, kata dia, ingin kasus ini
segera selesai dengan adanya sanksi bagi Setya dalam sidang Mahkamah Kehormatan
Dewan.
"Ya
pastilah, siapa tidak marah kalau dijual namanya," kata Kalla, di Bandar
Udara Halim Perdanakusuma, Selasa, 17 November 2015. (nasional.tempo.co)
Kalla juga
mengaku sudah menegur Setya di kantornya kemarin. Namun, Kalla heran, Setya
masih saja berkilah tidak mencatut nama Presiden dan Wakil Presiden dalam lobi
perpanjangan kontrak Freeport. Setya, kata Kalla, hanya mengaku bahwa dia
mengadakan pertemuan dengan Freeport tanpa mencatut nama Presiden.
Tanggapan MKD DPR RI
"Ini karena kami memerlukan
opini pakar hukum terlebih dahulu, terkait legal standing," ungkap
Ketua MKD, Surahman Hidayat usai rapat pleno internal MKD, Senin sore (23/11).
Legal standing yang dimaksud, dikatakan Surahman terkait
dua hal. Pertama, aduan pelanggaran etika anggota dewan, menurut MKD hanya bisa
disampaikan oleh masyarakat secara perorangan, anggota dan pimpinan DPR, atau
pimpinan alat kelengkapan dewan.
"Tapi pak Sudirman (Said)
datang ke MKD, bukan sebagai individu-perorangan. Tetapi sebagai menteri ESDM,
dengan surat kop menteri," ungkap Surahman.
Sehingga dipertanyakan, apakah
pengaduan itu bisa diterima. Kedua, laporan dugaan upaya Setya Novanto untuk
memuluskan perpanjangan kontrak PT Freeport tersebut, belum bisa dibahas di MKD
karena data yang disampaikan Sudirman "belum bisa diverifikasi".
"Awalnya
Pak Sudirman datang dengan beberapa lembar transkrip saja. Lalu dua hari
kemudian datang membawa flashdisk. Tapi pembicaraan di flashdisk
itu hanya 11.38 menit. Padahal tertulis di laporan, panjang pembicaraan total
120 menit."
MKD
pun mempertanyakan sisa rekaman sekitar 100 menit itu. "Kalau disimpulkan
bisa lanjut atau tidak dari data yang sekarang saja, bisa sesat," kata
Surahman.
Hasil Rapat Pleno: MKD Putuskan
Lanjutkan Persidangan Kasus Setya Novanto
Mahkamah Kehormatan Dewan memutuskan untuk melanjutkan laporan
Menteri ESDM Sudirman Said terkait dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan
Ketua DPR Setya Novanto. Keputusan itu diambil setelah MKD mendengar pendapat Ahli Bahasa terkait legal standing Sudirman dalam
membuat laporan.
"Hasil
rapat pleno tadi diputuskan untuk dilanjutkan ke dalam proses
persidangan," kata anggota MKD, Syarifudin Sudding, di Kompleks Parlemen
Senayan, Jakarta, Selasa (24/11/2015). (kompas.com)
Menurut Sudding, tidak ada
perdebatan berarti selama rapat pleno berlangsung. Sebab, ahli bahasa telah
memberikan penafsiran pada kata "dapat" dalam Bab IV Pasal 5 ayat (1)
tentang tata beracara MKD.
Rencananya, MKD akan menggelar rapat
pleno kembali pada Senin (30/11/2015). Dalam rapat tersebut, MKD akan menyusun
jadwal sidang termasuk siapa saja pihak-pihak yang akan dipanggil untuk digali
keterangannya.
Setya
Novanto Batal Menyerang Balik
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Setya
Novanto batal melaporkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman
Said ke aparat kepolisian. Rencana pelaporan Sudirman Said sempat diungkapkan
kuasa hukum Novanto terkait dugaan pelanggaran perekaman percakapan Novanto
bersama bos Freeport Indonesia.
"Tidak, saya tidak akan
melaporkan. Semua, saya tentu memaafkan yang sudah-sudah," kata Novanto di
Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (24/11/2015).(nasional.kompas.com)
IDENTIFIKASI MASALAH
Dalam Kasus
diatas, penulis menemukan beragam kasus yang melibatkan Setya Novanto. Kasus
dugaan korupsi, pelanggaran etika, dan terakhir pencatutan nama presiden dan
wakil presiden RI. Dalam hal ini penulis memfokuskan masalah pada kasus terbaru
yaitu Pencatutan Nama Presiden dan Wakil Presiden RI kemudian dihubungkan
dengan teori-teori komunikasi yang relevan dengan kasus tersebut.
METODOLOGI
Metode
yang digunakan dalam analisis ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan
studi kasus. Penelitian kualitatif adalah salah satu metode penelitian yang
bertujuan untuk mendapatkan pemahaman tentang kenyataan melalui proses berpikir
induktif. Melalui penelitian kualitatif peneliti dapat mengenali subjek,
merasakan apa yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari (Basrowi dan
Suwandi, 2008:2).
KAJIAN TEORI
1. Teori Retorika
Ajakan
Teori ini dicetuskan oleh Sonja K. Foss dan Cindy L. Griffin dalam
karya tulis mereka “Beyond Persuasion” mereka berpendapat tentang pertimbangan
dari sebuah mode interaksi yang berbeda, dimana seseorang berusaha mengubah
mode yag lainnya.
Untuk
lebih memahami konsep ini, Stephen dan
Karen (2014:265) menjelaskan. Retorika Ajakan menggunakan ide dari sebuah
undangan. Ketika anda memberikan sebuah undangan kepada orang lain supaya
mengenali perspektif anda, anda mengundang audience untuk melihat dunia seperti
yang anda lakukan dan mempertimbangkan perspektif anda dengan serius. Akan
tetapi, hal ini terserah pada audiensi untuk memutuskan apakah akan menggunakan
perspektif tersebut atau tidak.
1.1. Diskusi
Seperti yang telah dijelaskan konsep
dasar teori retorika ajakan, kita akan mengaitkannya dengan kasus Setya
Novanto. Teori Retorika Ajakan
mengatakan bahwa seorang komunikator mengundang khalayak untuk mengenal pesan
yang ingin disampaikan oleh komunikator. Dalam hal ini, Sudirman Said yang
menjabat sebagai Menteri energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ingin
menyampaikan sesuatu berkaitan dengan pelaporannya berupa transkrip rekaman yang
diduga dilakukan oleh Setya Novanto sebagai Ketua DPR RI, dengan mencantut nama
presiden Jokowi Dodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan permintaan saham ke
perusahaan PT Freeport Indonesia.
Dalam
perspektif Sudirman Said, berdasarkan hasil penyadapan berupa transkrip rekaman
dan buti-bukti tertulis lainnya, yang telah ia serahkan ke Majelis Kehormatan
Dewan (MKD) ia menganggap bahwa Setya Novanto telah melakukan pelanggaran kode
etik dengan membahas perpanjangan kontrak PT Freeport dengan mencatut nama
presiden dan wakil presiden. Disini terlihat bahwa tindakan Sudirman Said menginginkan
semua lapisan masyarakat, baik itu pemerintahan, akademisi, politikus untuk
mempertimbangkan perspektif yang ia bangun dengan mengungkap kasus freeport.
Dalam hal ini tentu masyarakat merespon dengan positif, namun ada pula yang
meragukan tindakan dari Sudriman Said.
Perspektif
yang telah dibangun oleh Sudirman Said, juga dikuatkan oleh Ketua KPK Abraham
Samad, ia mengatakan sangat disayangkan orang seperti Setya Novanto terpilih
menjadi ketua DPR dengan banyaknya kasus yang melibatkan dirinya yang sempat
diperiksa oleh KPK.
“Abraham Samad, Ketua Komisi Pemberantasan
Korupsi ketika itu, blak-blakan mengungkapkan keprihatinan dan kekecewaannya
atas terpilihnya pria yang akrab disapa Setnov itu. Saat itu Abraham secara
terbuka menyatakan terpilihnya Setnov sebagai orang nomor satu di parlemen
berpotensi mempunyai masalah hukum dan dapat merusak citra DPR sebagai lembaga
terhormat.”
Berdasarkan
perspektif yang dibangun Sudirman Said, penulis melihat kesuksesan Retorika
yang dibangun oleh Sudrman Said, namun dibalik itu penulis menduga ada sesuatu
hal yang lain dibalik ia membongkar kasus tersebut. Dengan melirik latar
belakang citra kinerja Sudriman Said, adanya dugaan membangun pencitraan. Untuk
pembahasan Pencitraan akan dilanjutkan pada pembahasan selanjutnya.
2. Teori Pencitraan
Menurut Robert (1977) dalam Hikmat (2011:39) Citra adalah gambaran seseorang (figur) yang tersusun melalui
persepsi yang bermakna melalui kepercayaan, nilai dan pengharapan.
Teori Pemulihan Citra
Teori Pemulihan Citra yang
dicetuskan oleh William L. Benoit adalah sebuah teori yang menjelaskan bahwa
setiap orang selalu menginginkan citra positif di dalam dirinya. Bahkan ketika
ia melakukan kesalahan, ia berusaha untuk mengembalikan citra positifnya (Sujudi,
2014).
Teori ini memiliki dua asumsi dasar,
yaitu:
1. Komunikasi
yang terbaik dikonseptualisasikan sebagai kegiatan yang diarahkan pada tujuan.
2. Mempertahankan
reputasi positif adalah salah satu tujuan utama dalam komunikasi.
Sedangkan menurut Sulaiman dalam
Lely (2010:130), citra seorang politisi ditentukan oleh tiga hal: Pertama,
Aksentuasi ketika berbicara dan substansi yang dibicarakan dimanapun dia, baik
resmi maupun tidak resmi. Kedua, pada sikap dan performance dia untuk
menghargai orang meski sangat berbeda-beda pendapat sekalipun sehingga bisa
diterima dikalangan lawan. Ketiga, Physically dia yang tidak hanya pada wajah,
tapi juga gaya dan penampilan.
Memperbaiki Image
Image yang terlanjur rusak dapat
disebabkan oleh dua hal. Pertama, image buruk tersebut memang disebabkan oleh
aktivitas dan tindakan yang dilakukan, baik sengaja maupun tidak. Kedua, image
tersebut muncul karena gencarnya lawan politik dalam mendiskreditkan image
negatif. Firmanzah (2012:248).
Kalau hal
ini terjadi, apa yang dilakukan oleh Sudirman Said adalah membangun citra dengan
mengangkat kasus dan menghindari reshuffle kabinet.
Masih
dalam buku Firmanzah. Ada tiga cara memperbaiki image negatif yang diyakini Ashforth dan Kreiner (1991).
Pertama, politikus dapat menggunakan strategi Reframing. Strategi ini
menggunakan metode transformasi makna dan pemahaman mengenai image negatif
tersebut. Strategi kedua adalah metode recalibrating. Dalam metode ini dapat
melakukan perubahan standar yang terkait dengan magnitude (seberapa besar) dan
valance (seberapa bagus) suatu atribut negatif atas imagenya. Yang diubah
adalah standar dari efek negatifnya dan bukan image itu sendiri. Ketiga, dengan
metode refocussing. Dalam strategi ini, perhatian masyarakat dapat digeser dari
hal-hal yang terkait image negatif ke arah hal-hal bersifat positif. Pengalihan
peratian publik ini dapat dilakukan dengan strategi komunikasi yang tepat,
yaitu membanjiri publik dengan informasi-informasi yang bertolak belakang
dengan isu negatif yang berkembang.
Diskusi
Mungkinkah
laporan sudirman said ke MKD tentang pencatutan nama presiden dan wakil
presiden oleh Setya Novanto merupakan
strategi Menteri ESDM itu untuk membangun pencitraannya karena bekinerja
buruk dan menghindari reshuffle kabinet ?
Berdasarkan
hasil analisa penulis, Sudirman Said memungkinkan melakukan pencitraan dengan
metode refocussing. Dalam
strategi ini, telah disebutkan citra buruk yang melekat padanya soal BBM dan
Mafia Migas kemudian dialihkan dengan membanjiri publik dengan mengungkap kasus
pencatutan nama presiden dan wakil presiden.
Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon
menganggap pengaduan Menteri ESDM Sudirman Said kepada Mahkamah Kehormatan
Dewan (MKD) sebagai manuver politik. Fadli menilai Menteri Sudirman takut
disingkirkan dalam perombakan (reshuffle) jilid dua Kabinet Kerja, yang gencar
diwacanakan belakangan ini.
"Karena dia (Sudirman Said) kan
menteri yang tidak berprestasi dan menurut survei termasuk yang kinerjanya
terburuk. Jadi mungkin dia punya mekanisme survival semacam ini. Supaya
nanti kalau di-reshuffle ya nanti (dianggap) karena membongkar kasus
ini," ucap Fadli Zon di gedung DPR RI, Jakarta, Rabu
(18/11).(republika.co.id)
Survei Political Commmunication Institute:
Kinerja Sudirman Said Buruk
Menurut survei
Political Communication (PolcoMM) Institute, melalui Direktur PolcoMM
Institute Heri Budianto, mengatakan, setidaknya ada tujuh menteri di Kabinet
Kerja yang kinerjanya jarang diketahui publik.
Ketujuh
menteri yang berkinerja jeblok adalah Menteri Perdagangan Rahmat Gobel,
Mentan Amran Sulaiman, Menperin Saleh Husin, Menkes Nila F. Moeloek, Menteri
Riset dan Dikti M. Nasir, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Yohanna Yambise, serta Menteri Koperasi dan UKM Puspayoga.
Kinerja
pemerintah dapat diketahui publik melalui kerja menteri di kabinet. Ada menteri
yang proaktif di media massa sehingga diketahui kerjanya. Tapi tidak sedikit
juga yang belum terlihat karena jarang terekspose media.
Bahkan
PolcoMM menyebut ada tiga menteri yang kinerjanya paling negative
yakni Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Hamonangan Laoly, Menteri
Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Tedjo Edhy Purdijatno dan Menteri
Energi dan Sumber Daya Mineral, Sudirman Said.
Survei
itu dilakukan dengan teknik pengumpulan data berupa berita sebanyak 32.046
berita di media massa nasional. (waspada.co.id)
3. Teori Disonansi
Kognitif
Teori disonansi kognitif adalah
perasaan yang dimiliki seseorang ketika mereka menemukan diri mereka sendiri
melakukan sesuatu yang tidak sesuai (inkonsisten) dengan apa yang mereka
ketahui (konsisten), atau mempunyai pendapat yang tidak sesuai dengan pendapat
yang lain yang mereka pegang Leon
Festinger dalam West and Turner
(2014:137).
Sebagaimana
Roger Brown (1965) katakan, dasar dari teori ini mengikuti sebuah prinsip yang
cukup sederhana: “Keadaan disonansi kognitif dikatakan sebagai keadaan
ketidanyamanan psikologis atau ketegangan yang memotivasi usaha-usaha untuk
mencapai konsonansi. Disonansi adalah
sebutan untuk ketidakseimbangan dan konsonansi
adalah sebutan untuk keseimbangan.
West dan Turner (2012:139) mengatakan bahwa teori
ini memiliki empat asumsi dasar, yaitu:
Asumsi pertama menekankan pada sebuah model mengenai sifat dasar manusia
yang mementingkan adanya stabilitas dan konsistensi. Teori Disonansi Kognitif
menyatakan bahwa orang tidak akan menikmati inkonsistensi dalam pikiran dan
keyakinan mereka. Sebaliknya, mereka
mencari konsistensi.
Asumsi kedua berbicara mengenai jenis konsistensi yang penting bagi
individu. Teori ini tidak berpegang pada konsistensi logis yang kaku.
Sebaliknya, teori ini merujuk pada fakta bahwa kognisi-kognisi harus tidak
konsisten secara psikologis (dibandingkan tidak konsisten secara logis) satu
dengan lainnya untuk menimbulkan disonansi kognitif.
Asumsi ketiga menyatakan bahwa ketika orang mengalami inkonsistensi
psikologis disonansi yang tercipta menimbulkan perasaan tidak suka. Jadi, orang
tidak senang berada dalam keadaan disonansi; hal itu merupakan suatu keadaan
yang tidak nyaman. Festinger mengatakan bahwa disonansi merupakan keadaan
pendorong yang memiliki properti rangsangan.
Asumsi keempat mengasumsikan bahwa rangsangan yang diciptakan oleh
disonansi akan memotivasi seseorang untuk menghindari situasi yang menciptakan inkonsistensi dan berusaha mencari situasi
yang mengembalikan konsistensi. Jadi, gambaran
akan sifat dasar manusia yang membingkai teori ini adalah sifat di mana manusia mencari konsitensi psikologis sebagai
hasil dari rangsangan yang disebabkan oleh
kondisi ketidaksenangan terhadap kognisi yang tidak konsisten.
Diskusi
Setelah membahas mengenai teori
Dinonansi Kognitif, maka dimanakah hubungan teori tersebut dengan kasus Setya
Novanto.
Seperti yang diberitakan di media-media. Terlihat adanya Inkonsisten yang
dilakukan Setya Novanto. Sebelumnya ia membantah telah mencantumkan nama
presiden Jokowi Dodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla di dalam transkrip tersebut
dan akan menuntut balik Sudirman Said.
“Pasti kita laporin. Terutama kalau bukti dari
MKD masih di tangan, teradu punya hak dong. Kalau tidak ditindaklanjuti, orang
besok sembarangan cari bukti lain diedit kan enggak bagus. Dari sisi itu, kita
ingin lakukan upaya hukum. “tandas Rudy di Jakarta, Senin (23/12/2015).
(NBCIndonesia.com)
Namun,
besoknya saat dikonfirmasi kembali ia membatalkan serangannya dan mengatakan
sudah memaafkan tindakan yang dilakukan Sudirman Said.
"Tidak,
saya tidak akan melaporkan. Semua, saya tentu memaafkan yang sudah-sudah,"
kata Novanto di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (24/11/2015).
Nampak,
antara pernyataan pertama dan kedua tidak mencerminkan sikap Konsistensi
4. Teori Konspirasi
Teori
persekongkolan atau teori konspirasi adalah teori-teori
yang berusaha menjelaskan bahwa penyebab tertinggi dari satu atau serangkaian
peristiwa (pada umumnya peristiwa politik, sosial, atau sejarah) adalah suatu
rahasia, dan seringkali memperdaya, direncanakan diam-diam oleh sekelompok
rahasia orang-orang atau organisasi yang sangat berkuasa atau berpengaruh.
(wikipedia.org)
Teori ini ada di seputaran gerak
dunia global dan merambah hampir ke semua ranah kehidupan manusia, dari urusan
politik sampai makanan. Teori konspirasi benar adanya, itu dapat dibuktikan
dari hal-hal kecil seperti: Apabila kita bermain poker dengan jumlah pemain 5
orang, maka kita dapat melakukan konspirasi terhadap 3 pemain lainnya, sehingga
hasil dari kekalahan 1 pemain yang merupakan calon korban konspirator dapat dibagi
berempat, dan cara itu biasa digunakan oleh pejudi-pejudi terkenal.
Diskusi
Adanya dugaan konspirasi yang
dilakukan oleh Sudirman Said bersama petinggi Pt Freeport Ma’roef Sirajuddin.
Menurut
Politikus (PDIP) Effendi Simbolon mencurigai adanya konspirasi di balik kasus
pencatutan nama Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla
(JK). Effendi curiga konspirasi itu dilakukan oleh Menteri Energi dan Sumber
Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said dan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia,
Ma'roef Sjamsoeddin.
"Karena dia (Ma'roef) berikan rekaman, nah ini yang harus dipanggil. Apakah mantan Wakil BIN gunakan instrumen BIN? Karena kita harus ketahui bahwa tidak bisa gunakan instrumen BIN untuk kepentingan usaha swasta asing," kata anggota Komisi I DPR itu. (nasional.sindonews.com)
"Karena dia (Ma'roef) berikan rekaman, nah ini yang harus dipanggil. Apakah mantan Wakil BIN gunakan instrumen BIN? Karena kita harus ketahui bahwa tidak bisa gunakan instrumen BIN untuk kepentingan usaha swasta asing," kata anggota Komisi I DPR itu. (nasional.sindonews.com)
Pengakuan Maroef Sirajuddin
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia,
Maroef Sjamsoeddin mengakui keaslian bukti rekaman yang diperdengarkan dalam
persidangan kode etik Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD).
Anggota
MKD Fraksi Hanura Syarifuddin Sudding mempertanyakan bukti rekaman itu apakah
benar sesuai dengan peristiwa yang terjadi atau tidak. Menanggapi pertanyaan
tersebut, Maroef pun membenarkan rekaman tersebut.
"Yang mulia suara rekaman itu betul
yang mulia," kata Maroef dalam persidangan etik MKD di Kompleks Parlemen,
Senayan, Jakarta, Kamis (3/12/12015) (metrotvnews.com)
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Kasus
Setya Novanto telah ditinjau dari berbagai teori-teori komunikasi politik, maka
dapat disimpulkan bahwa setidaknya terdapat 4 teori yang dapat dikaitkan.
Yaitu:
1.
Teori Retorika Ajakan dan Teori
Pencitraan (Sudirman Said)
Adanya dugaan penggunakan
strategi Retorika Ajakan oleh Sudirman
Said dalam mengungkapkan kasus pencantutan nama presiden dan wakil presiden,
terlihat bahwa ia secara langsung melaporkan sendiri transkrip rekaman tersebut
ke MKD, kemudian menjadi berita paling hangat belakangan ini, masyarakat secara
tidak sadar telah terpengaruh oleh retorika ajakan Sudirman Said. Disini
terlihat bahwa tindakan Sudirman Said menginginkan lapisan-lapisan masyarakat,
baik itu pemerintahan, akademisi, politikus untuk mempertimbangkan perspektif
yang ia bangun dengan mengungkap kasus tersebut. Berkaitan dengan strategi
pencitraan, berdasarkan hasil analisa penulis, Sudirman Said memungkinkan
melakukan pencitraan dengan metode refocussing. Dalam strategi ini, telah
disebutkan citra buruk yang melekat padanya soal BBM dan Mafia Migas kemudian
dialihkan dengan membanjiri publik dengan mengungkap kasus pencatutan nama
presiden dan wakil presiden.
2.
Teori Disonansi Kognitif (Setya
Novanto)
Disonansi Kognitif
berkaitan antara perasaan Konsisten dan Inkonsisten oleh seorang komunikator.
Seorang komunikator seperti Setya Novanto, menunjukkan adanya inkonsistensi
yang ia lakukan dalam menanggapi kasus yang melilitnya. Pernyataan sebelumnya
ia membantah telah mencantumkan nama presiden Jokowi Dodo dan Wakil Presiden
Jusuf Kalla di dalam transkrip tersebut dan akan menuntut balik Sudirman Said.
Namun, dihari berikutnya saat dikonfirmasi di media massa, ia membatalkan
tuntutannya ke Sudirman Said. Disini terlihat antara pernyataan pertama dan
kedua bersifat inkonsisten.
3.
Teori Konspirasi (Antara Sudirman
Said dan Maroef Sirajuddin)
Adanya
dugaan konspirasi yang dilakukan oleh Sudirman Said bersama Maroef Sirajuddin
untuk menjebak Setya Novanto. Hal ini dikuatkan oleh bukti dan pengakuan Maroef
bahwa rekaman transkrip terasal darinya dan membenarkan isi transkrip tersebut.
Saran
Dari
pemaparan yang telah diuraikan diatas, penulis menyadari terdapat kekurangan
yang belum terlihat oleh penulis sendiri, terutama teori yang digunakan belum
semaksimal yang telah dipaparkan, maka diharapkan dikoreksi dan masukan, baik
dari kalangan akademisi maupun masyarakat secara umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Lely Arrianie, komunikasi politik Politisi dan Pencitraan di
panggung politik. Widya padjadjaran
2010. Bandung
Firmanzah, marketing politik antara pemahaman dan realitas.
Yayasan Pusaka Obor Indonesia 2012.
Jakarta
http://nasional.kompas.com/read/2015/11/24/19393791/Setya.Novanto.Batal.Laporkan.Su dirman.Said.ke.Polisi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar